RUMAH MODEL BERKARAKTER TROPIS

ARTIKEL RUMAH MODEL BERKARAKTER TROPIS

“Alat Peraga Rumah Model Berkarakter Tropis di kawasan Departemen Arsitektur Universitas Diponegoro”


Dosen Pengampu :

Dr. Ir. Eddy Prianto, CES., DEA.

Disusun oleh :

Xifa Maharani

21020121140119

UNIVERSITAS DIPONEGORO

FAKULTAS TEKNIK

ARSITEKTUR

2022



Mengulik Rumah Model Berkarakter Tropis dengan Iklim di Indonesia


 

Pendahuluan 

Sebelum membahas mengenai alat peraga Rumah Model yang berkarakter arsitektur tropis di Kampus Arsitektur Universitas Diponegoro ini, banyak hal yang dapat muncul mengenai arsitektur tropis. Dan jauh dari analis-analis arsitektur tropis, beberapa pemikiran muncul pertanyaan alasan mengapa manusia membuat bangunan? Yaitu karena kondisi alam atau iklim di mana manusia berada, tidak selalu dapat menunjang aktifitas yang dilakukannya secara baik. Terkadang alam menurunkan hujan lebat, kadang menjatuhkan sengatan matahari yang sangat tajam, atau menghembuskan angin yang terlalu keras. Sementara aktifitas manusia yang sangat bervariasi memerlukan kondisi iklim tertentu di sekitarnya yang bervariasi pula. Aktivitas manusia seperti mengetik, melukis, tidur, makan, membaca, dan sebagainya pada umumnya memerlukan kondisi-kondisi fisik iklim tertentu agar aktifitas tersebut dapat dilangsungkan secara baik. Untuk melangsungkan aktifitas kantor misalnya diperlukan ruang dengan kondisi visual yang baik di mana intensitas cahaya mencukupi, diperlukan kondisi termal yang mendukung di mana suhu udara berada dalam rentang nyaman tertentu, demikian pula diperlukan kondisi audial dengan intensitas gangguan bunyi yang rendah yang tidak mengganggu pengguna bangunan. 

Karena cukup banyak aktifitas manusia yang tidak dapat diselenggarakan di luar akibat ketidak sesuaian kondisi iklim luar, maka manusia membuat bangunan. Dengan bangunan diharapkan iklim luar yang tidak menunjang penyelenggaraan aktifitas manusia dapatdimodifikasi’ - dirubah menjadi iklim dalam (bangunan) yang lebih sesuai, sehinga aktifitas manusia dapat dilangsungkan dengan baik. Pada saat arsitek melakukan tindakan untuk menanggulangi persoalan iklim dalam bangunan yang dirancangnya, maka ia secara benar mengartikan bahwa bangunan adalah alat untuk memodifikasi iklim. Iklim luar yang tidak sesuai dengan tuntutan penyelenggaraan aktifitas manusia dicoba untuk dirubah menjadi iklim dalam (bangunan) yang sesuai dengan tuntutan tersebut. Udara luar yang terlalu panas atau terlalu dingin dirubah oleh bangunan menjaditidak terlalupanas atautidak terlaludingin. 

Lalu dengan keadaan negera Indonesia yang beriklim tropis, muncul kembali pertanyaan apakah itu arsitektur tropis? Setelah para arsitek melakukan beberapa riset, banyak penjelasan yang menjelaskan mengenai arsitektur tropis. 

Arsitektur Tropis adalah suatu konsep bangunan yang mengadaptasi kondisi iklim tropis. Letak geografis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa membuat Indonesia memiliki dua iklim, yakni kemarau dan penghujan. Pada musim kemarau suhu udara sangat tinggi dan sinar matahari memancar sangat panas. Dalam kondisi ikim yang panas inilah muncul ide untuk menyesuaikannya dengan arsitektur bangunan gedung maupun rumah yang dapat memberikan kenyamanan bagi penghuninya. Definisi utama dari iklim tropis yaitu Climate (iklim) berasal dari bahasa Yunani, klima yang berdasarkan kamus Oxford berarti region (daerah) dengan kondisi tertentu dari suhu dryness (kekeringan), angin, cahaya dan sebagainya. Dalam pengertian ilmiah, iklim adalah integrasi pada suatu waktu (integration in time) dari kondisi fisik lingkungan atmosfir, yang menjadi karakteristik kondisi geografis kawasan tertentu”. Sedangkan cuaca adalahkondisi sementara lingkungan atmosfer pada suatu kawasan tertentu”. Secara keseluruhan, iklim diartikan sebagaiintegrasi dalam suatu waktu mengenai keadaan cuaca” (Koenigsberger, 1975:3). Kata tropis berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu kata tropikos yang berarti garis balik, kini pengertian ini berlaku untuk daerah antara kedua garis balik ini. Garis balik ini adalah garis lintan 23027” utara dan garis lintan 23027 selatan. Iklim tropis adalah iklim dimana panas merupakan masalah yang dominan yang pada hampir keseluruhan waktu dalam satu tahun bangunanbertugasmendinginkan pemakai, dari pada menghangatkan dan suhu rata-rata pertahun tidak kurang dari 200C (Koenigsberger. 1975:3). Menurut Lippsmiere, iklim tropis Indonesia mempunyai kelembaban relatif (RH) yang sangat tinggi (kadang-kadang mencapai 90%), curah hujan yang cukup banyak, dan rata-rata suhu tahunan umumnya berkisar 230C dan dapat naik sampai 380C pada musimpanas”.  

Pada iklim ini terjadi sedikit sekali perubahanmusimdalam satu tahun, satu-satunya tanda terjadi pergantian musim adalah banyak atau sedikitnya hujan, dan terjadinya angin besar. Karakteristik warm humid climate (iklim panas lembab) adalah sebagai berikut (Lippsmiere. 1980:28) : 

  1. - Landscap, rain forest (hutan hujan) terdapat sepanjang pesisir pantai dan dataran rendah daerah ekuator. 

  1. - Kondisi tanah, merupakan tanah merah atau coklat yang tertutup rumput. 

  1. - Tumbuhan, zona ini tumbuhan sangat bervariasi dan lebat sepanjang tahun.Tumbuhan tumbuh dengan cepat karena pengaruh curah hujan yang tinggi dan suhu udara yang panas. 

  1. - Musim. Terjadi sedikit perbedaan musim. Pada bulanpanaskondisi panas dan lembab sampai basah. Pada belahan utara, bulandinginterjadi pada Desember-Januari, bulan”panasterjadi pada Mei sampai Agustus. Pada belahan selatan bulandinginterjadi pada April sampai Juli, bulanpanasterjadi pada Oktober sampai Februari. 

  1. - Kondisi langit, hampir sepanjang tahun keadaan langit berawan. Lingkungan awan berkisar 60%-90%. Luminance (lumansi) maksimal bisa mencapai 7000 cd/m2 sedangkan luminasi minimal 850cd/m2. 

  1. - Radiasi dan panas matahari, pada daerah tropis radiasi matahari dikategorikan tinggi. Sebagian dipantulkan dan sebagian disebarkan oleh selimut awan,meskipun demikian sebagian radiasi yang mencapai permukaan bumi mempunyai dampak yang besar dalam mempengaruhi suhu udara. 

  1. - Temperatur udara, terjad fluktuasi perbedaan temperatur harian dan tahunan.Rata-rata temperatur maksimum tahunan adalah 30,50C. temperatur rata-rata tahunan untuk malam hari adalah 250C tetapi umumnya berkisar antara 21-270C. sedangkan selama siang hari berkisar 27-320c. kadang-kadang lebih dari 320C. 

  1. - Curah hujan sangat tinggi selama satu tahun, umumnya menjadi sangat tinggi dalam beberapa tahun tertentu. Tinggi curah hujan tahunan berkisar antara 2000-5000 mm, pada musim hujan dapat bertambah. Sampai 500 mm dalam sebulan. Bahkan pada saat badai bisa mencapai 100 mm per jam. 

  1. - Kelembaban, dikenal sebagai RH (Relative humidity), umumnya rata-rata tingkat kelembaban adalah sekitar 75%, tetapi kisaran kelembabannya adalah 55% sampai hampir 100%. Absolute humidity antara 25-30 mb. 

  1. - Pergerakan udara, umumnya kecepatan angin rendah, tetapi angin kencang dapat terjadi selama musim hujan. Arah angin biasanya hanya satu atau dua. 

  1. - Karakteristik khusus, tingginya kelembaban mempercepat pertumbuhan alga dan lumut, bahan bangunan organik membusuk dengan cepat dan banyaknya serangga. Evaporasi tubuh terjadi dalam jumlah kecil karena tingginya kelembaban dan kurangnya pergerakan udara (angin). Rata-rata badai adalah 120-140 kali dalam satu tahun. 

Daerah dengan iklim tropis didunia terdiri 2 jenis, yaitu daerah dengan iklim tropis kering, sebagai contoh adalah di negara-negara Timur Tengah, Meksiko, dan sekitarnya, serta daerah dengan iklim tropis lembab, yang terdapat pada sebagian besar negara-negara di Asia, termasuk Indonesia, walaupun untuk beberapa daerah di Indonesia, misalnya beberapa bagian pulau Nusa Tenggara mengarah pada kondisi tropis kering 

Jadi, penjelasan mengenai arsitektur tropis (lembab) secara sederhana yaitu suatu rancangan arsitektur yang mengarah pada pemecahan problematik iklim tropis (lembab). Sementara iklim tropis lembab sendiri dicirikan oleh beberapa faktor iklim (climatic factors) sebagai berikut 

  1. - Curah hujan tinggi sekitar 2000-3000 mm/tahun (Jakarta + 2000 mm/th atau rata-rata + 160 mm/bulan). Ada bagian di Indonesia dengan curah hujan rendah seperti Nusa Tenggara Timur.  

  1. - Radiasi matahari relatif tinggi sekitar 1500 hingga 2500 kWh/m2/tahun (Jakarta + 1800 kWh/m2/tahun). 

  1. - Suhu udara relatif tinggi untuk kota dan kawasan panatai atau dataran rendah (Jakarta antara 23o hingga 33oC). Untuk kota dan kawasan di dataran tinggi (Bandung, Lembang, Malang, Bukit Tinggi, dan lainnya) suhu udara cukup rendah, sekitar 18o hingga 28oC atau lebih rendah 

  1. - Kelembaban tinggi (Jakarta antara 60 hingga 95%). 

  1. - Kecepatan angin relatif rendah (dalam kota Jakarta rata-rata di bawah 5 m/s).  

Kondisi iklim tropis lembab tersebut di atas ternyata tidak seluruhnya dapat mendukung keberlangsungan aktifitas manusia tropis secara nyaman. Dalam banyak hal justru sebagian besar tuntutan kenyamanan fisik manusia tidak sesuai dengan kondisi iklim yang ada. Dengan kelembaban yang tinggi, manusia tropis, yang melakukan aktifitas kantor, sekolah, dan lainnya, cenderung menghindari air hujan mengenai tubuhnya. Air hujan yang membasahi pakaian dirasakan sebagai faktor yang membuat manusia merasa tidak nyaman, di mana kulit terasa lengket. Sementara itu hal semacam ini tidak terlalu dirisaukan oleh mereka yang berdiam di iklim dengan kelembaban rendah, seperti di kawasan sub-tropis. Dengan kelembaban rendah di kawasan semacam ini, air hujan yang membasahi tubuh dan pakaian akan segera kering dengan sendirinya, sehingga manusia tidak perlu cemas tersiram air hujan atau salju. Di lain pihak, dengan radiasi matahari yang cukup tinggi, ditambah suhu udara yang tinggi, manusia tropis cenderung menghindari sengatan matahari langsung karena dapat mengakibatkan ketidaknyamanan termal. Sedangkan mereka yang tinggal di daerah dengan iklim dingin cenderung tidak mengkhawatirkan hal ini, di mana radiasi langsung matahari justru dapat membantu menghangatkan tubuh mereka di luar musim panas. Dengan kelembaban yang tinggi, manusia tropis cenderung memerlukan angin yang lebih kencang agar uap air (keringat) yang berada pada permukaan kulit cepat menguap dan memberikan efek dingin terhadap tubuh, sehingga kenyamanan termal dapat dicapai. Untuk 2 itulah pergerakkan angin di sekitar dan di dalam bangunan menjadi sangat penting bagi penyelesaian problematik arsitektur tropis terutama dalam kaitannya dengan pencapaian kenyamanan termal bagi penghuni bangunan. 

Bentuk arsitektur tropis, tidak mengacu pada bentuk yang berdasarkan estetika, namun pada bentuk yang berdasarkan adaptasi/ penanganan iklim tropis. Meskipun demikian bentukan bangunan oleh arsitek/desainer yang baik akan memberikan kualitas arsitektur yang estetis, hal ini karena selain memperhatikan bagaimana menangani iklim tropis, juga memperhatikan bagaimana kesan estetika eksterior dan interior dari bangunan tersebut. Bentuk secara makro sangat memperhatikan faktor panas dan hujan, dimana untuk menangani hal tersebut maka arsitektur tropis yang baik akan memperhatikan bagaimana bangunan tidak panas dan ketika hujan tidak tampias, selain itu terdapat kualitas kenyamanan berkaitan dengan suasana panas dan dingin yang ditimbulkan oleh hujan, biasanya dibuat teras untuk memberikan perlindungan serta menikmati iklim tropis yang bersahabat. Bentuk secara mikro pada masing-masing elemen bangunan seperti jendela dengan bentuk lebar, berjalusi, berkanopi, atau semacam itu. Bentuk bangunan tropis dari kayu biasanya merupakan bangunan panggung dengan lantai yang diangkat dengan harapan terhindar dari banjir akibat hujan, memang merupakan kualitas rancangan yang sudah berhasil sejak dulu. 

Kondisi iklim tropis lembab memerlukan syarat-syarat khusus dalam perancangan bangunan dan lingkungan binaan, mengingat ada beberapa factor-factor spesifikasi yang hanya dijumpai secara khusus pada iklim tersebut, sehingga teori-teori arsitektur, komposisi, bentuk, fungsi bangunan, citra bangunan dan nilai-nilai estetik bangunan yang berbentuk akan sangat berbeda dengan kondisi yang ada di wilayah lain yang berbeda kondisi iklimnya 

. 

Pembahasan 

Rumah Model 

Rumah Model yang berkarakter arsitektur tropis? Siapakah yang menciptakan alat peraga Rumah Model di Kampus Arsitektur Universitas Diponegoro? Terdapat dua dosen di Departemen Arsitektur Universitas Diponegoro yaitu yang pertama Dr. Ir. Eddy Prianto, CES., DEA., Dosen  Arsitektur Fakultas Teknik Bidang Ilmu Teknologi Bangunan (Thermal, Energi, Comfort dan Simulasi Model) dan Bharoto, S.T., M.T. (Dosen Arsitektur Bidang Ilmu Sejarah, Teori, dan Kritik Arsitektur) yang telah menciptakan alat peraga Rumah Model berkarakter Arsitektur Tropis yang memiliki dimensi 1.00m x 1.00m x 1.00m. 

Menurut Dr. Eddy, Alat Peraga Model Rumah Putar tersebut telah dibangun sejak tahun 2010, berlokasi di halaman kampus Arsitektur Universitas Diponegoro. Selain itu alat peraga ini diharapkan dapat meningkatkan wawasan dan pengetahuan hingga eksperimental in-situ pada sivitas akademikDepartemen Arsitektur FT Undip secara khusus dan seluruh akademis ranah arsitek secara umum. 


 

  

Beberapa contoh penggunaannya adalah sebagai alat media peraga miniatur berdasarkan permasalahan Arsitektur yang menjadi persoalan di masyarakat misalnya ketika perumahan sedang ramai-ramainya dengan trend pemakaian batu alam. Kita mengkaji batu alam jenis apa yang tepat untuk rumah di kota Semarang. Saat marak-maraknya pemakaian cat bercolor pada façade rumah, kita juga mengkaji warna apa yang memberi dampak efisiensi energi untuk rumah di Semarang. Selain itu tentang Green Bangunan, kita pun mengkaji tanaman rambat dan desain seperti apa yang cocok untuk rumah-rumah di Semarang” tutur Dr. Eddy Prianto. 

Alat Peraga Rumah Model tersebut telah dibangun sejak tahun 2010, berlokasi di halaman kampus Arsitektur Universitas Diponegoro. Selain itu alat peraga ini diharapkan dapat meningkatkan wawasan dan pengetahuan yang mendalam hingga eksperimental in-situ pada sivitas akademikDepartemen Arsitektur FT Undip secara khusus dan seluruh akademis arsitek secara umum. Seaca prinsip pembangunan, Alat Peraga Rumah Model ini tersusun dari tiga elemen konstruksi sebuah bangunan pada umumnya, yaitu kepala, badan, dan kaki. Element pertama yaitu elemen kepala berupa atap yang dibuat dari material dan bentuk sesuai parameter yang dikehendaki. Yang kedua yaitu elemen badan berupa dinding yang tersusun dari beberapa bata 0.05m x 0.11m x 0.25m dengan batu bata ukuran reel yang dilengkapi lubang inlet dan outlet untuk kondisi yang mempresentasikan porosite bangunan hunian daerah tropis, dimana pada bidang ini jenis lapisan dinding, komposisi, finishing bahkan bahan dindingnya dapat di modelisasi sesuai parameter yang dikehendaki. Sedangkan bagian kaki berupa lantai beton yang dilapisi pasangan keramik dan roda yang ditempatkan pada rel berbentuk lingkaran, sehingga bangunan model ini dapat diputar sejauh 360 derajat. 

Dari beberapa penerapan arsitektur tropis pada rumah seperti : 

  1. Rumah tropis bentuk panggung 

Curah hujan yang tinggi tak menutup kemungkinan ada genangan air pada saat-saat tertentu. Seolah tahu risiko ini mungkin saja terjadi, nenek moyang kita tampaknya sudah mengantisipasinya dengan bentuk rumah panggung. Tak hanya dapat melindungi dari air banjir saat musim hujan, ketika musim kemarau, rumah arsitektur tropis dengan kolong akan memberi ruang untuk angin bergerak, membuat rumah lebih adem. 

  1. Bentuk atap pada rumah tropis 

Bentuk atap miring paling pas untuk arsitektur tropis di daerah dengan curah hujan tinggi. Semakin miring bidang atap, semakin cepat air hujan turun melewati permukaan atap. Jika bentuknya datar, kemungkinan akan menggenang atau membebani atap. Tak hanya itu, atap yang miring juga akan memberi ruang lebih luas di bagian dalam rumah sehingga bangunan terasa lebih tinggi dan lebih banyak sirkulasi udara. 

  1. Langit-langit pada rumah tropis 

Langit-langit rumah yang tinggi, seperti bisa kita lihat pada rumah bergaya kolonial. Memang bukan gaya rumah tradisional Indonesia, namun ini juga salah satu kunci untuk membuat gaya rumah dengan arsitektur tropis tercapai. 

  1. Tritisan pada rumah tropis 

Untuk rumah dengan arsitektur tropis, tritisan yang datar kurang cocok, melainkan yang lebar dan miring lebih disarankan. Saat cuaca sangat cerah, tritisan akan melindungi rumah dari sinar matahari langsung dan meredam panas matahari yang membuat rumah menjadi panas. Meski melindungi tapi ia tidak menutupi seluruh cahaya yang masuk, sehingga bagian dalam rumah masih tetap terang, tanpa menyalakan lampu. Sementara di saat hujan, tritisan berfungsi menyalurkan air dari atap ke tanah, sekaligus mencegah tampias dan melindungi jendela dan pintu dari air hujan. 

  1. Arah rumah tropis 

Bagian atap dan dinding rumah dengan konsep arsitektur tropis yang memiliki permukaan paling lebar dari hunian, sebaiknya dibuat menghadap selatan dan utara. Dengan begitu, panas yang diserap permukaan rumah dapat diminimalisir. 

  1. Material rumah tropis 

Rumah arsitektur tropis menggunakan material, seperti kayu dan batu pada lantai dan dinding, serta ijuk pada atap. Memang ijuk membuat rumah terasa lebih nyaman karena dapat meredam aliran panas yang diterima. Selain itu, penggunaan material seperti kayu dan batu tak hanya membuat sebuah hunian secara tampilan terlihat dan identik dengan daerah tropis. 

  1. Ventilasi udara rumah tropis 

Untuk membuat hunian yang sejuk, aliran udara dalam rumah harus betul-betul diperhatikan. Rumah dengan konsep arsitektur tropis, memiliki dua jenis ventilasi. Pertama, ventilasi yang selalu terbuka, berbentuk kecil-kecil. Kedua, ventilasi yang dapat dibuka dan ditutup sesuai kebutuhan. Agar sirkulasi udara di rumah tetap lancar, ingat prinsipnya, udara mengalir jika ada perbedaan suhu dan tinggi. 

Terdapat beberapa aspek penerapan arsitektur tropis dalam pembuatan Alat Peraga Rumah Model yang diciptakan oleh Dr. Ir. Eddy Prianto, CES., DEA. dan Bharoto, S.T., M.T. yaitu bentuk atap rumah tropis yang bentuknya memiliki kemiringan yang dapat dilewati oleh air hujan pada permukaan atap. Dan mengurangi genangan pada bagian atap karena curah hujan di iklim tropis terhitung sangat tinggi. Lalu, pada arah rumah tropis. Pada aspek in dapat dilihat dari rumah model yang dapat diputar 360 derajat yang dimana dapat digunakan untuk melihat segala sisi rumah dari perspektif yang berbeda. Dari perspektif tersebut, seseorang dapat mengecek bagian-bagian rumah dibagian sisi timur, utara, barat, atau selatan. Karena dalam fasad rumah yang memiliki sisi hadap tertentu dapat membuat pengguna rumah kurang nyaman. Selanjutnya ada material rumah yang beberapa bagian pada struktur rumah model ini telah merepresentasikan material yang dapat digunakan di iklim tropis. Dan yang terakhir yaitu ventilasi rumah. Dari yang telah diihat, jendela pada Alat Peraga Rumah Model ini memiliki sirkulasi yang searah dan lurus, sehingga sirkulasi udara dapat berjalan dan udara didalam ruangan atau rumah tersebut tidak panas 

Saat pengukuran terkait termal interior bangunan terhadap model rumah miniatur, data suhu udara dan kelembaban udara didapat dengan menggunakan alat ukur bernama thermo-hygrometer, baik dengan metode manual maupun digital. Dengan contoh pengukuran yang di ukur dari pukul 06.00 hingga 18.00 dibawah pancaran sinar matahari langsung. Agar model selalu terpapar sinar matahari sepanjang hari secara optimal/kondisi ekstrim, maka model rumah miniatur harus diputar mengikuti arah gerak sinar matahari. Artinya, diawal pengukuran (pagi) model akan dihadapkan ke arah Timur dan diakhir pengukuran pk 18.00, posisi model akan menghadap kearah Barat. Kini dengan perkembangan alat ukur, maka pengukuran selama 24jam full dan selama beberapa hari dapat dilakukan dengan penggunaan alat datalogger. 

Dr. Eddy juga mengatakan bentuk alat peraga rumah model tidak hanya memperhatikan peluang munculnya prototipe untuk masa depan, akan tetapi juga berpijak pada model-model yang eksis dalam kesejarahan arsitektur di Indonesia/di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Dengan demikian prototipe untuk masa depan dapat memanfaatkan prinsip-prinsip yang terdapat pada model masa lalu, sehingga terwujudlah rancangan yang tetap kontekstual dan berkelanjutan. 

Pada umumnya pelaksanaan pengukuran dilakukan minimal selama minimal 24 jam dengan durasi pencatatan tiap 5 menit hingal 30 menit.. Dua pertimbangan teknis terkait durasi pengukuran apabila kondisi cuaca lingkungan (iklim mikro dan iklim makro kota Semarang stabil, maka durasi pengukuran bisa cukup 1 sampai 2 hari). Namun bilamana sebaliknya, maka durasi pengukuran bisa sampai 7 hari atau seminggu. Kondisi pengukuran yang berkelanjutan (siang dan malam) merupakan data yang dapat digunakan dalam tahapan penganalisaan. 

Dengan dibangunnya Rumah Model, maka dapat diartikan dengan bangunan merupakan media untuk memodifikasi iklim luar. Apa artinya? Bangunan atau arsitektur merupakan media untuk memodifikasi iklim luar (external climate) yang tidak dikehendaki (tidak nyaman) menjadi iklim dalam (internal climate) yang nyaman (atau dikehendaki) oleh penghuni bangunan. Arsitektur tropis adalah arsitektur yang dirancang untuk memodifikasi iklim tropis luar yang tidak nyaman menjadikan iklim di dalam bangunan yang nyaman. Vitruvius (100 BC) dalam bukunya [1] menguraikan mengenai tiga elemen dasar arsitektur: utility (fungsi), firmness (kekokohan-kekakuan) dan beauty (keindahan, estetika). Saya berpendapat bahwa untuk masa sekarang dan mendatang, ketiga elemen tersebut masih belum cukup untuk menjadi prasyarat keberhasilan suatu karya arsitektur. Ada dua aspek yang harus dipenuhi oleh suatu karya arsitektur yang baik, yakni: kenyamanan dan hemat energi. Kenyamanan dapat dibagi ke dalam dua kategori: kenyamanan psikis dan kenyamanan fisik. Kenyamanan psikis berkaitan dengan aspek kepercayaan, agama, adat, dsb. Bentuk kenyamanan ini lebih bersifat personal dan kualitatif. Sementara kenyamanan fisik cenderung bersifat universal serta dapat diukur secara kuantitatif, atau dapat di kuasi-kuantitatifkan. Secara umum kenyamanan fisik dapat dibagi menjadi empat jenis, yakni kenyamanan spatial (ruang), kenyamanan visual (penglihatan), kenyamanan audial (pendengaran) dan kenyamanan thermal (termis/suhu). Dengan kenyamanan, karya arsitektur diharapkan mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan penghuni dalam aspek-aspek tersebut di atas. Dalam membahas persoalan arsitektur tropis dan bangunan hemat energi, dasar pemikiran di atas akan digunakan. Keberhasilan suatu karya arsitektur akan diukur dari keberhasilan karya tersebut dalam memenuhi kebutuhan kenyamanan, baik psikis maupun fisik pengguna bangunan dengan mengkonsumsi energi serendah mungkin. Meskipun demikian aspek kenyamanan psikis tidak akan dibahas mengingat permasalahan arsitektur tropis lebih berkaitan pada persoalan iklim (tropis) yang bersifat fisik dan terukur. 

Telah disebutkan bahwa salah satu sasaran dalam merancang bangunan adalah menghemat pemakaian energi tanpa harus mengorbankan kebutuhan kenyamanan bagi penghuninya. Pengertian energi di sini lebih diarahkan kepada jenis energi yang diperdagangkan. Pengertian energi primer sendiri juga akan menjadi relatif seirama dengan perjalanan waktu dan perkembangan teknologi. Untuk saat ini energi primer merupakan energi yang bersumber 3 dari minyak bumi (fossil fuels): batu bara, minyak, dan gas alam, serta sumber energi terbarukan seperti matahari (photovoltaic), tenaga air, panas bumi dan nuklir. Energi yang dibangkitkan dalam tubuh manusia sebagai hasil oksidasi makanan tidak termasuk dalam pengertian energi yang dperbincangkan dalam pembahasan ini. Dengan demikian pengertian bangunan hemat energi dalam konteks pembahasan ini adalah bangunan yang dalam operasionalnya dapat menekan (menghemat) penggunaan yang bersumber (terutama) dari minyak bumi. Sebuah bangunan kantor delapan lantai yang dibangun tanpa menggunakan lift dapat dianggap hemat energi karena menghemat pemakaian listrik untuk penggerak mesin lift, meskipun dari sisi lain sebetulnya sangat boros terhadap pemakaian energi yang dibangkitkan tubuh manusia sebagai hasil pembakaran bahan makanan ekstra yang perlu dimakan karyawan/wati - sebagai sumber energi untuk manapak anak-anak tangga bangunan tersebut. Kaitan antara Bangunan, Kenyamanan dan Energi dapat dilihat pada tiga skenario. Skenario pertama, bangunan mampu memodifikasi iklim luar yang tidak dikehendaki (tidak nyaman) menjadi iklim di dalam bangunan yang nyaman tanpa menggunakan energi. Hal ini umumnya terjadi pada rumah-rumah tradisional yang mewadahi aktifitas tradisional. Pada siang hari penghuni dapat merasakan udara di dalam ruang yang sejuk (karena sistem ventilasi rumah demikian baiknya - salah satunya karena penggunaan bilik/anyaman bambu sebagai dinding, yang memungkinkan terjadinya aliran udara secara tersebar dan merata di dalam bangunan serta suhu udara sekitar bangunan yang cukup rendah. 

Meskipun ruangan di dalam pada rumah tradisional pada umumnya gelap (dibanding dengan rumah modern), kondisi ini tidak akan menimbulkan permasalahan bagi penghuni karena pada siang hari masyarakat tradisional tidak akan melakukan aktifitas di dalam rumah yang membutuhkan penerangan dengan level penerangan tinggi seperti halnya pada masyarakat modern. Pada malam hari rumah tradisional diterangi dengan lampu, lentera atau pelita, dengan bahan bakar minyak nabati seperti minyak kelapa, minyak kemiri, atau minyak buah Jarak, yang kesemuanya tergolong terbarukan, tidak bersumber dari minyak bumi. Pada skenario kedua bangunan yang diharapkan berfungsi sebagai alat modifikasi iklim seringkali tidak selalu berhasil. Di mana bangunan gagal merubah sebagian atau seluruhnya iklim luar yang tidak nyaman menjadi iklim di dalam bangunan yang nyaman. Kondisi ini yang justru seringkali dijumpai. Kegagalan ini dapat terjadi karena, pertama, ada kemungkinan besar iklim luar di sekitar bangunan terlalu ekstrim, jauh berbeda dengan tuntutan iklim nyaman di dalam bangunan, misalnya perbedaan suhu luar dengan kebutuhan suhu nyaman manusia setempat terlalu besar. 

Dengan situasi semacam ini sulit bagi bangunan untuk mendekatkan perbedaan suhu luar dengan suhu nyaman tanpa bantuan energi (listrik) dengan bentuk rancangan arsitektur apapun. Faktor kedua, karena kekeliruan rancangan arsitektur yang kurang mempertimbangkan iklim, di mana arsitek masih terlalu terpaku pada target visual atau estetika, sehingga aspek kenyamanan termal terabaikan. dan bangunan tidak nyaman secara termal. Seringkali terjadi, karena lemahnya rancangan arsitektur, bangunan gagal mengantisipasi kondisi iklim luar yang sesungguhnya tidak ekstrim. 

 

Tinjauan Arsitektur Tropis 

Secara  global  Indonesia  terletak  di  daerah tropis basah (diantara garis 15° LU & 15° LS). Daerah  tropis  basah  memiliki  kelembaban udara  relatif  tinggicurah  hujan  tinggiserta temperatur  rata-rata tahunan  diatas  18°C. Hampir  tidak  dijumpai  perbedaan  yang mencolok antar musim. 

Daerah iklim tropis basah dibedakan menjadi dua daerah sekunder: 

  1. - Daerah hutan hujan tropis 

  1. - Daerah musim dan savanna lembab tropika kering, dibedakan menjadi: 

  1. Daerah savanna kering 

  1. Daerah padang pasir dan setengah padang pasir 

Indonesia terletak  pada  daerah  hutan  hujan tropis. Kondisi lanskap iklim ini berupa hutan hujan di sekitar pantai dan di dataran rendah khatulistiwa.  Daerah  ini  memiliki  vegetasi yang  Iebat  dan  bervariasi  berupa  lumut, ganggang,  jamur,  semak  belukar an  pohon-pohon  tinggi  yang  tak  dapat  ditembus  oleh sinar  matahari.  Kondisi  tanah  yang  sangat lembab,  muka  air  tanah  yang  tinggi  (kadang mencapai  permukaan)  &  permukaan  tanah laterit  merah  &  coklat.  Perbedaan  musim sangat  kecil  dimana  pada  bulan  terpanas udara panas dan lembab sampai basah, pada bulan  terdingin  cuaca  panas  sedang  dan lembab  sampai  basah. Hal  ini  sangat berpengaruh kenyamanan bagi penghuninya,  dan faktor- faktor iklim yang dapat mempengaruhi kenyamanan penghuni suatu bangunan rumah  tinggal  tersebut seperti  : Radiasi  matahari,  Presipitasi  (curah hujan),   Kesilauan,   Kelembaban   udara, temperatur & perubahan, gerakan udaran, dan pencemaran udara. 

 

Aristektur Hemat Energi 

Lalu, bagaimana dengan Arsitektur Tropis hemar energi? Arsitektur yang dirancang dengan memberi penekanan pada pemecahan problematik iklim setempat, apapun jenis iklimnya - termasuk iklim tropis, dengan sendirinya akan hemat energi. Meskipun demikian, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, penghematan energi dalam bangunan yang telah beradaptasi dengan iklim setempat (climate sensitive building) ternyata masih dapat ditingkatkan lagi. Pada umumnya arsitektur tropis hanya dijelaskan sebatas bagaimana bangunan tersebut mampu melindungi pemakainya dari hujan dan terik matahari. Dua faktor iklim ini yang pada umumnya paling dikenal sebagai ciri iklim tropis, meskipun sesungguhnya belum cukup. Dengan sasaran di atas, suatu karya arsitektur yang menggunakan atap dan overstek (overhang) lebar - seperti yang dapat dijumpai pada atap-atap arsitektur tradisional (vernakular) Indonesia, sudah dianggap cukup memenuhi syarat sebagai arsitektur tropis. Dalam menelaah esensi arsitektur tropis dengan rujukan arsitektur tradisional, kita tidak dapat melepaskan peran tempat atau lokasi di mana bangunan tersebut berdiri. Arsitektur tradisional yang berfungsi mewadahi aktifitas tradisonal umumnya dibangun di kawasan yang masih hijau atau terbuka, di mana suhu udara sekitarnya cenderung relatif masih rendah. Banyaknya vegetasi serta tiupan angin yang optimal mampu menghasilkan kenyamanan pengguna bangunan. Dalam konteks arsitektur tropis masa kini, di mana yang dibicarakan adalah bangunan modern, yang digunakan mewadahi aktifitas modern, serta lokasi bangunan pada umumnya berada di kawasan kota-kota besar yang sudah tidak dapat diharapkan lagi memiliki suhu lingkungan rendah, maka pengertian arsitektur tropis pun akan cenderung bergeser. Atap dan overstek lebar mampu menciptakan suhu nyaman di dalam rumah-rumah tradisional masa lalu atau rumah-rumah di pedesaan, untuk konteks bangunan tropis modern masa kini penyelesaian semacam itu tampaknya belum cukup. Kondisi iklim di pusat kota berbeda dengan kondisi iklim di tepi kota atau di kawasan pedesaan. Diperlukan strategi rancangan tambahan untuk menciptakan arsitektur tropis yang mampu memberikan kenyamanan pengguna bangunan dengan energi rendah. Tngginya suhu udara rata-rata di daerah tropis, terutama di dataran rendah, strategi penghematan energi dalam bangunan harus diarahkan untuk menjaga agar suhu udara di dalam bangunan tidak meningkat saat siang hari ketika matahari bersinar terik. Dengan kata lain, bangunan harus mampu meminimalkan 'perolehan panas' (heat gain) matahari. 

Beberapa strategi umum dalam menekan penggunaan energi dalam bangunan (tanpa harus mengorbankan kenyamanan) adalah sebagai berikut:  

  1. 1. Mencegah terjadinya efek rumah kaca  

Efek rumah kaca adalah akumulasi panas di dalam bangunan/ruang akibat radiasi matahari. Dinding-dinding trasparan (kaca) yang ditembus oleh cahaya matahari langsung akan menimbulkan efek rumah kaca. Jika hal ini terjadi dalam bangunan dengan skala pemanasan yang besar, suhu dalam bangunan akan meningkat. Untuk menurunkannya diperlukan mesin pengkondisian udara dengan kapasitas yang lebih besar dibanding jika bangunan tidak/atau sedikit mengalami efek rumah kaca. Energi untuk pendinginan akan menjadi besar akibat efek rumah kaca ini. Untuk mencegah efek rumah kaca, dindingdinding transparan harus dihindari dari jatuhnya sinar matahari langsung. 

2. Mencegah terjadinya akumulasi panas pada ruang antara atap dan langit-langit. Untuk bangunan dengan atap miring perlu dipikirkan untuk menghindari terjadinya akumulasi panas pada ruang antara penutup atap dengan langit-langit. Untuk itu ruang ini perlu diberi bukaan, sehingga memungkinkan aliran udara silang menyingkirkan panas yang terakumulasi ini. Jika hal ini tidak dilakukan ruang di bawah langit-langit akan panas, sehingga bangunan memerlukan energi ekstra (misalnya mesin pendingin) untuk menurunkan suhu ruang tersebut.  

3. Meletakkan ruang-ruang penahan panas pada sisi timur- barat. 

Pada sisi-sisi timur dan barat bangunan yang langsung berhadapan dengan jatuhnya sinar matahari sebaiknya diletakkan ruang-ruang yang berfungsi sebagai ruang antara guna mencegah aliran panas menuju ruang utama misalnya ruang kantor. Ruang-ruang antara ini dapat berupa ruang tangga, gudang, toilet, pantry, dan sebagainya.  

4. Melindungi pemanasan dinding yang menghadap timur atau barat  

Seandainya pada sisi timur dan barat bangunan tanpa dapat dihindari harus diletakkan ruang-ruang utama, maka untuk menghindari pemanasan pada ruang tersebut dinding-dinding ruang perlu diberi penghalang terhadap sinar matahari langsung. Atau dinding dibuat rangkap di mana di antara kedua dinding tersebut diberi ruang antara yang diberi lubang-lubang ventilasi. Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap perilaku termis ruang utama di dalamnya, di mana suhu udara ruang akan lebih rendah secara mencolok dibanding hanya menggunakan dinding tunggal.  

  1. Mencegah jatuhnya radiasi matahari pada permukaan keras  

Karena permukaan keras (aspal, beton, dsb) cenderung merupakan material yang menyerap panas (kemudian dipancarkan kembali ke udara), maka suhu udara di atas permukaan keras yang terkena radiasi matahari cenderung lebih tinggi di banding dengan di atas rumput atau perdu misalnya [4]. Penggunaan material keras sebagai penutup halaman, jalan, tempat parkir, dsb. akan menaikan suhu udara di sekitar bangunan seandainya permukaan tersebut dibiarkan terbuka terhadap radiasi langsung matahari. Untuk itu permukaan dengan material padat/keras sebaiknya dilindungi (dipayungi) dari jatuhnya radiasi langsung matahari agar suhu udara sekitar bangunan tetap rendah.  

  1. Memanfaatkan aliran udara malam hari yang bersuhu rendah  

Suhu udara minimum rata-rata Jakarta adalah 23oC, dan ini terjadi pada malam menjelang pagi hari. Dalam rangka penghematan energi dalam bangunan potensi ini dapat dimanfaatkan dengan cara mengalirkan angin yang bersuhu rendah tersebut melalui dinding (yang dibuat rangkap-berongga) serta lantai (berongga, dengan raised floor). Tujuan dari pengaliran udara ini adalah menurunkan suhu massa bangunan (building fabric) serendah mungkin mendekati atau sama dengan suhu udara minimum tersebut. Suatu ruang yang memiliki lantai, dinding dan langit-langit dengan suhu rendah akan lebih mudah mencapai kenyamanan meskipun suhu udara luar relatif tinggi, karena pada kenyataan sensasi suhu (termis) tidak saja ditentukan oleh suhu udara, namun juga oleh suhu radisi permukaan ruang (lantai, dinding dan langit-langit). Beberapa percobaan model dengan simulasi komputer serta uji coba pada bangunan-bangunan baru telah membuktikan keampuhan teknik pendinginan malam hari ini dalam usaha menekan pengunaan energi dalam bangunan.  

Kondisi yang berpengaruh dalam perancangan bangunan pada iklim tropis lembab adalah : 

1. Kenyamanan Thermal Usaha untuk mendapatkan kenyamanan thermal terutama adalah mengurangi perolehan panas, memberikan aliran udara yang cukup dan membawa panas keluar bangunan serta mencegah radiasi panas, baik radiasi langsung matahari maupun dari permukaan dalam yang panas. Perolehan panas dapat dikurangi dengan menggunakan bahan atau material yang mempunyai daya tahan terhadap panas yang besar, sehingga laju aliran panas yang menembus bahan tersebut akan terhambat. Permukaan yang paling besar menerima panas adalah atap. Sedangkan bahan atap umumnya mempunyai tahanan panas dan kapasitas panas yang lebih kecil dari dinding. Untuk mempercepat kapasitas panas dari bagian atas agak sulit karena akan memperberat atap. Tahan panas dari bagian atas bangunan dapat diperbesar dengan beberapa cara, misalnya rongga langit-langit, penggunaan pemantul panas reflektif juga akan memperbesar tahan panas. Cara lain untuk memperkecil panas yang masuk antara lain :  

  • Memperkecil luas permukaan yang menghadap ke timur dan barat 

  • Melindungi dinding dengan alat peneduh. Peroleh panas dapat juga dikurangi denganmemperkecil penyerapan panas dari permukaan, terutama untuk permukaan atap. Warna terang mempunyai penyerapan radiasi matahari yang kecil sedang warna gelap adalah sebaliknya. Penyerapan panas yang besar akan menyebabkan temperatur permukaan naik. Sehingga akan jauh lebih besar dari temperatur udara luar. Hal ini menyebabkan perbedaan temperatur yang besar antar kedua permukaan bahan, yang akan menyebabkan aliran panas yang besar. 

2. Aliran Udara Melalui Bangunan 

Kegunaan dari aliran udara/ventilasi adalah :  

  • Untuk memenuhi kebutuhan kesehatan yaitu penyediaan oksigen untuk pernapasan, membawa asap dan uap air keluar ruangan, mengurangi konsentrasi gas-gas dan bakteri serta menghilangkan bau  

  • Untuk memenuhi kebutuhan kenyamanan thermal, mengeluarkan panas, membantu mendinginkan bagian dalam bangunan. Aliran udara terjadi karena adanya gaya thermal yaitu terdapat perbedaan temperature antara udara di dalam dan diluar ruangan dan perbedaan tinggi antara lubang ventilasi. Kedua gaya ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendapatkan jumlah aliran udara yang dikehendaki. Jumlah aliran udara dapat memenuhi kebutuhan kesehatan pada umumnya lebih kecil daripada yang diperlukan untuk memenuhi kenyamanan thermal. Untuk yang pertama sebaiknya digunakan lubang ventilasi tetap yang selalu terbuka. Untuk memenuhi yang kedua, sebaiknya digunakan lubang ventilasi yang bukaannya dapat diatur. 

3. Radiasi Panas 

Radiasi panas dapat terjadi oleh sinar matahari yang langsung masuk ke dalam bangunan dan dari permukaan yang lebih panas dari sekitarnya, untuk mencegah hal itu dapat digunakan alat-alat peneduh (Sun Shading Device). Pancaran panas dari suatu permukaan akan memberikan ketidak-nyamanan thermal bagi penghuni, jika beda temperatur udara melebih 40C. Hal ini sering kali terjadi pada permukaan bawah dari langit-langit/permukaan bawah dari atap. 

Penerangan Alami pada Siang Hari Cahaya alam siang hari yang terdiri dari :  

  • Cahaya matahari langsung.  

  • Cahaya matahari difus. 

Di Indonesia seharusnya dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya cahaya ini untuk penerangan siang hari di dalam bangunan. Tetapi untuk maksud ini, cahaya matahari langsung tidak dikehendaki masuk ke dalam bangunan karena akan menimbulkan pemanasan dan penyilauan, kecuali sinar matahari pada pagi hari. Sehingga yang perlu dimanfaatkan untuk penerangan adalah cahaya langit.  

Untuk bangunan berlantai banyak, makin tinggi lantai bangunan makin kuat potensi cahaya langit yang bisa dimanfaatkan. Cahaya langit yang sampai pada bidang kerja dapat dibagi dalam 3 (tiga) komponen :  

  • 1. Komponen langit. 

  • 2. Komponen refleksi luar  

  • 3. Komponen refleksi dalam Dari ketiga komponen tersebut komponen langit memberikan bagian terbesar pada tingkat penerangan yang dihasilkan oleh suatu lubang cahaya.  

Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya tingkat penerangan pada bidang kerja tersebut adalah : 

  • 1. Luas dan posisi lubang cahaya. 

  • 2. Lebar teritis. 

  • 3. Penghalang yang ada dimuka lubang cahaya.  

  • 4. Faktor refleksi cahaya dari permukaan dalam dari ruangan. 

  • 5. Permukaan di luar bangunan di sekitar lubang cahaya. 

Untuk bangunan berlantai banyak makin tinggi makin berkurang pula kemungkinan adanya penghalang di muka lubang cahaya. Dari penelitain yang dilakukan, baik pada model bangunan dalam langit buatan, maupun pada rumah sederhana, faktor penerangan siang hari rata-rata 20% dapat diperoleh dengan lubang cahaya 15% dari luas lantai, dengan catatan posisi lubang cahaya di dinding, pada ketinggian normal pada langit, lebar sekitar 1 meter, faktor refleksi cahaya rata-rata dari permukaan dalam ruang sekitar 50% – 60% tidak ada penghalang dimuka lubang dan kaca penutup adalah kaca bening. Desain rumah tropis bekerja menuju satu tujuan utama dasar: tinggal nyaman tanpa bergantung pada AC. Hal ini dilakukan dengan moderasi dari tiga variabel: temperatur, kelembaban dan sirkulasi udara. Victor Olgay dalam bukunya, “Desain dengan Iklim”, mengembangkan garis panduan untuk arsitektur iklim responsif dalam empat daerah iklim yang berbeda, salah satunya adalah lingkungan tropis panas lembab. Merancang sebuah rumah pasif didinginkan dimulai dengan situs dan mencakup setiap aspek dari rumah sampai ke warna. 

 

Orientasi Arsitektur Tropis 

  1. 1. Orientasi Bangunan Terhadap Matahari dan Angin  

Tujuan utama adalah bagaimana mempertahankan keseimbangan antara priode kekurangan panas dimana sinar matahari diperlukan dan periode kelebiahan panasdimana sinar matahari harus dihindarkan. Lintasan matahari dan angin bervariasitergantung pada musim dan lokasi tapak. Di Indonesia yang merupakan daerah panas lembab, sebaiknya orientasi bangunan:  

  • - Bentuk bangunan memanjang arah Timur-barat dengan bidang timur danbarat sekecil mungkin.  

  • - Mengurangi pemanasan matahari.  

  • - Memanfaatkan angin agar terjadi pendinginan karena penguapan.  

  • - Sebaiknya memasang kisi-kisi peneduh matahari pada jendela dan ruang outdoor. 

 

  1. 2. Orientasi Bangunan Terhadap Bukaan 

Ventilasi bertujuan:  

  • - Menghilangkan gas-gas yang tidak menyenangkan yang ditimbulkan oleh keringat dan sebagainya dan gas-gas pembakaran (CO2) yang ditimbulkan oleh pernafasan dan proses-proses pembakaran. 

  • - Menghilangkan uap air yang timbul sewaktu memasak, mandi dan sebagainya 

  • - Menghilangkan kalor yang berlebihan. 

  • - Membantu mendapatkan kenyamanan termal. 


Ventilasi ruangan yang layak ditempati, misalkan kantor, pertokoan, pabrik, ruang kerja, kamar mandi, binatu dan ruangan lainnya untuk tujuan tertentu, harus dilengkapi dengan ventilasi alami dan atau ventilasi mekanis. 

  1. Ventilasi Alami Ventilasi alami 

Terjadi karena adanya perbedaan tekanan di luar suatu bangunan gedung yang disebabkan oleh angin dan karena adanya perbedaan temperatur, sehingga terdapat gas-gas panas yang naik di dalam saluran ventilasi. Ventilasi alami yang disediakan harus terdiri dari bukaan permanen, jendela, pintu atau sarana lain yang dapat dibuka, dengan: 

  • - Jumlah bukaan ventilasi tidak kurang dari 5% terhadap luas lantai ruangan yang berventilasi. 
     

  • - Ventilasi menghadap ke arah halaman berdidnding, atau daerah yang terbuka ke atas, atauteras terbuka, pelataran parkir, atau sejenis; atauruang yang bersebelahan. 

Keberhasilan ventilasi alami sangat bergantung pada kualitas udara lingkungan, sehingga udara lingkungan yang sejuk dan sehat menjadi modal utama. Untuk mendapatkan kenyamanan termal dengan pengkondisian alami dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut. 

  • - Sumbu panjang bangunan (orientasi bangunan), sumbu panjang bangunan setidaknya sejajar dengan sumbu timur dan barat (bersudut 5 dari sumbu timur-barat). Hal ini agar akan yang ada menghadap utara dan selatan. Penetrasi sinar matahari langsung juga dapat diminimalkan karena sisi terpendek berhadapan dengan matahari timur dan barat. 

  • - Tidak adanya material keras di sekeliling bangunan. Perlu diingat material di sekeliling bangunan akan menyerap panas. Halaman yang ditanami vegetasi pohon dan rumput akan memanfaatkan panas untuk proses asimulasi sehingga akan menambah sejuk udara sekeliling. Hindari pemakian beton, aspal dan paving blok di sekeliling bangunan. Bangunan sedapat mungkin ditengah lahan atau memungkinkan mendapatkan hembusan angin pada semua sisi untuk membantu menyejukkan permukaan bangunan. 

 

  1. Ventilasi Mekanis 

Sistem ventilasi mekanis harus diberikan jika ventilasi alami yang memenuhi persyaratan tidak memadai. 

Sirkulasi Udara Dengan Sistem Ventilasi Vertikal 

Mangunwijaya (1980:153) menyebutkan bahwa prinsip perancangan ventilasi vertikal adalah berdasarkan suatu teori bahwa udara kotor dan kering akan selalu mengalir keatas secara alamiah, sedangkan udara segar  dengan berat jenis yang lebih besar akan selalu mengalir kebawah atau selalu mendekati lantai. 

Prinsip diatas harus diperhatikan dalam upaya perancangan tata ruang, sehingga pembuangan udara kotor keluar ruangan dan suplai udara segar ke dalam ruangan dapat terpenuhi. 

Penerapan prinsip-prinsip tersebut pada perancangan fisik ruang mencakup: 

  • - Pelubangan dan atau kisi-kisi pada langit-langit, yang memungkinkan udara kotor dan kering bisa menerobos keluar ruangan secara vertikal. 

  • - Adanya pori-pori pada atap, aplikasinya pada susunan genting yang masih mempunyai sela-sela. 

  • - Penerapan “skylight”,yaitu upaya memanfaatkan sinar matahari dengan sistem pencahayaan dari atap, yang dikombinasikan dengan lubang-lubang ventilasi vertikal pada daerah tersebut, dengan demikian panas akibat adanya radiasi sinar matahari dari skylight bisa berfungsi sebagai penyedot udara, hal ini disebabkan didaerah tersebut terjadi tekanan udara rendah akibat timbulnya kenaikan suhu udara. 

Mangunwijaya juga menyebutkan bahwa, perencanaan penghawaan alami pada perencanaan bangunan akan lebih efektif apabila merupakan penggabungan antara sistem ventilasi horisontal dengan sistem ventilasi vertikal, karena kedua sistem tersebut akan saling menunjang. Berdasarkan penelitian, upaya tersebut ternyata bisa menaikkan tingkat keberhasilan 10% dibandingkan apabila sistem tersebut diterapkan secara terpisah. 

Kegunaan dari aliran udara atau ventilasi adalah : 

  • - Untuk memenuhi kebutuhan kesehatan yaitu penyediaan oksigen untuk pernafasan, membawa asap dan uap air keluar ruangan, mengurangi konsentrasi gas-gas dan bakteri serta menghilangkan bau. 

  • - Untuk memenuhi kebutuhan kenyamanan thermal, mengeluarkan panas, membantu mendinginkan bagian dalam bangunan. 

Aliran udara terjadi karena adanya gaya thermal yaitu terdapat perbedaan temperatur antara udara di dalam dan diluar ruangan dan perbedaan tinggi antara lubang ventilasi. Kedua gaya ini dapat dimanfaatkan sebaikbaiknya untuk mendapatkan jumlah aliran udara yang dikehendaki. Jumlah aliran udara dapat memenuhi kebutuhan kesehatan pada umumnya lebih kecil daripada yang diperlukan untuk memenuhi kenyamanan thermal. Untuk yang pertama sebaiknya digunakan lubang ventilasi tetap yang selalu terbuka. Untuk memenuhi yang kedua, sebaiknya digunakan lubang ventilasi yang bukaannya dapat diatur. 

 

Kesimpulan 

Arsitektur Tropis adalah suatu konsep bangunan yang mengadaptasi kondisi iklim tropis. Indonesia terletak  pada  daerah  hutan  hujan tropis. Kondisi lanskap iklim ini berupa hutan hujan di sekitar pantai dan di dataran rendah khatulistiwa. Dalam kondisi iklim yang panas inilah muncul ide untuk menyesuaikannya dengan arsitektur bangunan gedung maupun rumah yang dapat memberikan kenyamanan bagi penghuninya.  

Dengan kondisi yang ada, adanya prinsip-prinsip pada perancangan ruang pada rumah model yang berkarakter tropis. Lalu, material rumah pada bagian struktur rumah model ini telah merepresentasikan material yang dapat digunakan di iklim tropis. Yang dimana rumah model ini memiliki susunan elemen konstruksi bangunan pada umumnya, yaitu kepala, badan, dan kaki. Element pertama yaitu elemen kepala berupa atap yang dibuat dari material dan bentuk sesuai dengan iklim tropis di Indonesia. Yang kedua yaitu elemen badan berupa dinding yang tersusun dari beberapa bata. Lalu bagian kaki berupa lantai beton yang dilapisi pasangan keramik. Dari ketiga bagian struktur di Rumah Model ini telah merepresentasikan bangunan yang menyesuaikan dengan arsitektur berkarakter tropis pada iklim di Indonesia.


Bibliography

Administrator. (2017, Februari 8). Pengertian dan Konsep Arsitektur Tropis. Retrieved from Pemerintah Kota Medan Dinas Tata Ruang Tata Bangunan: http://perkimtaru.pemkomedan.go.id/artikel-963-pengertian-dan-konsep-arsitektur-tropis-.html

Karyono, T. H. (1998). Arsitektur Tropis dan Bangunan Hemat Energi. Jurnal Kalang, 1-9.

Karyono, T. H. (2000). Mendefinisikan Kembali Arsitektur Tropis Indonesia. Desain Arsitektur, 1-6.

Undip, H. (2022, September 9). Dosen Arsitektur UNDIP Ciptakan Alat Peraga Rumah Model Berkarakter Arsitektur Tropis. Retrieved from Undip: https://www.undip.ac.id/post/26206/dosen-arsitektur-undip-ciptakan-alat-peraga-rumah-model-berkarakter-arsitektur-tropis.html

  

Komentar